Sejarah 7 Oktober, AS Mulai Menginvasi Afghanistan

Sejarah 7 Oktober, AS Mulai Menginvasi Afghanistan
5/5 (1)

Sejarah 7 Oktober, AS Mulai Menginvasi Afghanistan

Politik Bersuara – Hari ini 20 tahun lalu, tepatnya 7 Oktober 2001, koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) memulai serangan terhadap Afghanistan yang dikuasai oleh Taliban.

Serangan ini merupakan awal mula invasi panjang AS ke Afghanistan dengan tujuan “perang melawan teroris” dan tanggapan atas peristwa 11 September 2001.

Invasi ke Afghanistan ini berlangsung hingga dua dekade dan menjadi perang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat.

Melansir History, invasi ke Afghanistan dimaksudkan untuk menargetkan pimpinan organisasi al-Qaeda, Osama bin Laden, yang berbasis di negara itu.

Osama bin Laden diyakini berlindung di bawah pemerintahan Taliban yang telah menguasai Afghanistan sejak 1996.

Pada minggu-minggu sebelum invasi, baik Amerika Serikat dan Dewan Keamanan PBB telah menuntut agar Taliban menyerahkan Osama bin Laden untuk diadili.

Baca Juga: Kabar Ekonomi Terbaru

Namun, tawaran yang diberikan Taliban untuk mengadili Osama bin Laden di pengadilan Islam, tidak memuaskan AS.

AS pun memulai invansi dengan pengeboman udara terhadap instalasi Taliban dan al-Qaeda di Kabul, Kandahar, Jalalabad, Konduz dan Mazar-e-Sharif.

Pesawat koalisi lainnya menerbangkan pasokan kemanusiaan untuk warga sipil Afghanistan.

Setelah serangan udara melemahkan pertahanan Taliban, AS memulai invasi darat, dengan dukungan dari negara-negara lain.

Sebulan invansi, tepatnya pada 12 November 2001, para pejabat Taliban dan pasukan mereka mundur dari ibu kota Kabul.

Pada awal Desember 2001, Kandahar, benteng terakhir Taliban, telah jatuh dan pemimpin Taliban Mullah Mohammed Omar bersembunyi.

Pejuang Al-Qaeda terus bersembunyi di wilayah pegunungan Tora Bora Afghanistan. Mereka juga terlibat pertempuran dengan pasukan anti-Taliban yang didukung oleh pasukan khusus AS.

Mengetahui hal itu, Al-Qaeda segera memprakarsai gencatan senjata yang diyakini sebagai taktik untuk memberi waktu kepada Osama bin Laden dan anggota kunci al-Qaeda lainnya untuk melarikan diri ke negara tetangga Pakistan.

Baca Juga: Indonesia Hilangkan Syarat Bagi Penumpang Internasional

Pada pertengahan Desember, bunker dan kompleks gua yang digunakan oleh al-Qaeda di Tora Bora telah direbut, tetapi tidak ada tanda-tanda bin Laden.

Setelah Tora Bora direbut, dewan agung pemimpin suku Afghanistan Hamid Karzai ditunjuk sebagai pemimpin sementara, sebelum akhirnya terpilih menjadi presiden Afghanistan pertama yang dipilih secara demokratis pada 7 Desember 2004.

Bahkan, saat Afghanistan mulai mengambil alih langkah pertama menuju demokrasi, pasukan al-Qaeda dan Taliban mulai berkumpul kembali di wilayah perbatasan pegunungan antara Afghanistan dan Pakistan.

Selama dekade berikutnya, mereka terus melakukan perang gerilya dengan pasukan AS dan bertanggung jawab atas banyak serangan yang menewaskan pejabat pemerintah Afghanistan dan penculikan orang asing.

Meskipun perjanjian damai ditandatangani antara pasukan Taliban dan AS pada Februari 2020, permusuhan di kedua belah pihak terus berlanjut.

Kini, AS telah menarik penuh seluruh pasukannya, sebagai bagian dari janji Presiden Joe Biden untuk mengakhiri perang di Afghanistan.

Selama 20 tahun konflik, lebih dari 3.500 tentara koalisi AS tewas, dengan lebih dari 20.000 tentara terluka.

Sekitar 69.000 pasukan keamanan Afghanistan tewas, serta 51.000 warga sipil, dan 51.000 militan.

Menurut PBB, sekitar 5 juta warga Afghanistan telah mengungsi akibat perang sejak 2012. Menjadikan negara itu sebagai populasi pengungsi terbesar ketiga di dunia.

Facebook Comments

Beri Nilai Berita Ini